Mengais Harapan Di Tepi Teluk Bima
Pagi yang tenang di awal Januari 2013, Fatimah (56 Thn) dan anak
perempuannya Rahmi turun dari rumah panggungnya di kelurahan Rabadompu
Kota Bima menuju kompleks Pangkalan Pendaratan Ikan.Ada secercah harapan
terpancar dari raut wajah keduanya. Harapan itu tidaklah terlalu muluk,
hanyalah mendapatkan kerang dan kepiting, lalu dijual di pasar Bima
untuk mendapatkan beras dan kebutuhan hidup sehari-hari. Setiba di PPI itu, keduanya langsung terjun dari bibir dermaga
menapakan kaki untuk memulai aktifitasnya. Fatimah mengaku, setiap
purnama air laut pasti surut di pagi hari. Dan hamparan surutnya air
laut itu cukup luas dan bahkan mencapai dermaga pelabuhan Bima. Tentu di
tempat itu, tidak hanya Fatimah dan Rahmi yang mengais harapan yang
sama, tetapi ada beberapa orang lainnya yang lebih dahulu terjun ke
areal itu untuk mencari kerang, kepiting dan sejenisnya.
“ Beberapa hari terakhir terutama di pagi hari air laut surut, kami senang karena dapat mencari kerang dan kepiting. “ Tutur Fatimah sembari terus melangkah mencari kerang di sekitar dermaga PPI itu. Hasil yang didapat setiap hari memang tidak seberapa. Dari pagi hingga siang hari ketika air laut mulai pasang, Fatimah mampu mengumpulkan 5 mangkok kerang maupun keong. Kadang juga mendapatkan kepiting. “ harga 1 mangkok kerang sekitar Rp.5000,-. Sedangkan satu mangkok kepiting dijual seharga Rp.35.000.” ungkap Fatimah.
Dikatakannya kegiatannya mencari kepiting dan kerang hanya dilakukan sewaktu air laut surut seperti ini. Sehari-hari Fatimah kerja serabutan mencuci di rumah-rumah tetangga. “ Alhamdulillah selama purnama ini saya tetap mendapatkan kerang dan kepiting untuk kebutuhan sehari-hari. “ Fatimah menghela napas dan terus berjalan menjauh menuju ke tengah.
Fatimah, Rahmi dan beberapa warga lainnya adalah potret kehidupan dan harapan yang bersemayam di di tepi teluk Bima ini. Ada profesi lain yang mungkin luput dari pengetahuan kita yang menjadi rutinitas manusia yang terus berjuang menggapai asa, mengais harapan dari laut dan alam kita ini. (*alan)
“ Beberapa hari terakhir terutama di pagi hari air laut surut, kami senang karena dapat mencari kerang dan kepiting. “ Tutur Fatimah sembari terus melangkah mencari kerang di sekitar dermaga PPI itu. Hasil yang didapat setiap hari memang tidak seberapa. Dari pagi hingga siang hari ketika air laut mulai pasang, Fatimah mampu mengumpulkan 5 mangkok kerang maupun keong. Kadang juga mendapatkan kepiting. “ harga 1 mangkok kerang sekitar Rp.5000,-. Sedangkan satu mangkok kepiting dijual seharga Rp.35.000.” ungkap Fatimah.
Dikatakannya kegiatannya mencari kepiting dan kerang hanya dilakukan sewaktu air laut surut seperti ini. Sehari-hari Fatimah kerja serabutan mencuci di rumah-rumah tetangga. “ Alhamdulillah selama purnama ini saya tetap mendapatkan kerang dan kepiting untuk kebutuhan sehari-hari. “ Fatimah menghela napas dan terus berjalan menjauh menuju ke tengah.
Fatimah, Rahmi dan beberapa warga lainnya adalah potret kehidupan dan harapan yang bersemayam di di tepi teluk Bima ini. Ada profesi lain yang mungkin luput dari pengetahuan kita yang menjadi rutinitas manusia yang terus berjuang menggapai asa, mengais harapan dari laut dan alam kita ini. (*alan)
Post a Comment